- Prev
- 1 of 3
- Next
Wilayah Jogjakarta dulunya adalah wilayah Kerajaan Mataram Klasik (Hindu-Budha) yang berjaya pada abad ke-8 dan 9 Masehi. Kerajaan ini meninggalkan jejak yang menunjukkan betapa tinggi peradabannya di tanah Jawa saat itu, berupa candi-candi yang telah sangat populer di dunia pariwisata seperti Borobudur, Pawon, Mendut, Prambanan, dan Boko.
Selain itu masih begitu banyak candi-candi kecil peninggalan kerajaan ini yang belum populer seperti candi-candi di atas. Diperkirakan candi-candi di sekitar Jogja telah ada sejak abad ke-1Masehi dan berkembang pesat pembangunannya pada abad 8-10 Masehi. Meskipun pada tahun 928 Masehi pusat pemerintahan Mataram Klasik dipindahkan ke Jawa Timur, namun pembangunan candi-candi kecil tetap berlangsung hingga abad 13 (Sri Mulyaningsih, 2006). Fakta ini mengesankan bahwa manusia Jawa amatlah religius, bijaksana, gemar bersuci dan berbakti pada Tuhan.
Berikut beberapa candi-candi kecil yang seringkali luput untuk dikunjungi yang patut menjadi referensi obyek Anda berwisata selanjutnya:
CANDI SAMBISARI (candi unik terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah)
Candi Sambisari adalah candi Hindu (Siwa) yang dibangun pada abad ke-9 Masehi pada masa pemerintahan raja Rakai Garung pada tahun 812-838 Masehi di zaman kerajaan Mataram Klasik. Terletak sekitar 12 km di sebelah timur kota Jogja atau kira-kira 4 km sebelum kompleks Candi Prambanan tepatnya di desa Sambisari Kelurahan Purwomartani Kalasan Sleman.
Sekitar tahun 1966, candi ini ditemukan oleh seorang petani, bernama Karyoinangun, yang sedang mencangkul ladangnya. Secara tidak sengaja cangkulnya mengenai batu-batu berukir. Tahun 1987 pemugaran dan rekontruksi ulang terhadap kompleks candi dapat diselesaikan dengan posisi candi pada kedalaman 6,5 meter dari permukaan tanah sehingga candi Sambisari sering disebut sebagai candi bawah tanah. Hal ini kemungkinan besar karena tertimbun lahar dari Gunung Merapi yang meletus secara besar-besaran pada awal abad ke-XI. Hal ini terlihat dari banyaknya batu material vulkanik di sekitar candi. Tetapi sebagian ahli arkeologi memperkirakan dulunya situs candi ada di atas permukaan tanah, seperti halnya candi-candi yang lainnya.
Kompleks Candi Sambisari dikelilingi oleh tembok candi yang asli dengan ukuran 50 m x 48 m, dan mempunyai candi utama didampingi oleh tiga candi perwara (pendamping). Di dalam candi ini terdapat patung Durga (di sebelah utara), patung Ganesha (sebelah timur), patung Siwa Agastya (sebelah selatan), dan di sebelah barat terdapat dua patung dewa penjaga pintu: Mahakala dan Nadisywara. Di dalam candi utama terdapat patung Lingga dan Yoni dengan ukuran cukup besar. Lingga-Yoni merepresentasikan Dewa Siwa dan Dewi Parwati yang merujuk pada sifat laki-laki dan perempuan, sehingga bermakna kesuburan dan awal mula kehidupan. Bangunan candi induk cukup unik karena tidak mempunyai alas seperti candi di Jawa lainnya. Kaki candi sekaligus berfungsi sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah.Bagian kaki candi dibiarkan polos, tanpa relief atau hiasan apapun. Beragam hiasan yang umumnya berupa simbar baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi bagian luar. Pada saat penggalian, ditemukan juga benda-benda bersejarah lainnya, di antaranya beberapa tembikar, perhiasan, cermin logam serta prasasti lempengan emas.
Sayang sekali jika Anda tidak mengunjungi Candi Sambisari yang unik berada 6,5 meter di bawah permukaan tanah dan membuat candi ini tidak tampak dari kejauhan!
CANDI SARI (tempat mengajar calon biksu dan menyimpan kitab agama)
Candi Sari adalah candi Budha yang terletak di Dusun Bendan, Desa Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Dibangun pada abad ke- 8 Masehi dan ke-9 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran. Pembangunan candi ini disebutkan dalam Prasasti Kalasan (700 Saka / 778 M), diterangkan bahwa para penasehat keagamaan Wangsa Syailendra telah menyarankan agar Maharaja Tejapurnama Panangkarana (Rakai Panangkaran), mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Buddha. Untuk pemujaan Dewi Tara dibangunlah Candi Kalasan, sedangkan untuk asrama pendeta Buddha dibangunlah Candi Sari. Fungsinya sebagai asrama atau tempat tinggal terlihat dari bentuk keseluruhan dan bagian-bagian bangunan dan dari bagian dalamnya. Bahwa candi ini merupakan bangunan agama Buddha terlihat dari stupa yang terdapat di puncaknya. Bentuk candi ini sangat indah yang terdiri dari kaki, tubuh dan atap, dengan ketinggian 17 meter, panjang 17,3 meter, dan lebar 10 meter. Bagian kaki hanya tampak sebagian, sebab banyak batu yang hilang, bagian tubuh candi bertingkat dan berdenah persegi panjang, pintu masuk berada di tengah menghadap ke timur, dan pada bagian bawah ada pahatan orang yang sedang menunggang gajah. Pada setiap sisi terdapat jendela terbagi rata yang mengitari bagian tingkat atas dan bawah.
Candi Sari ini aslinya merupakan bangunan bertingkat dua. Lantai atas dulunya digunakan untuk menyimpan barang-barang untuk kepentingan keagamaan, sedangkan lantai bawah dipergunakan untuk kegiatan keagamaan, seperti belajar-mengajar, berdiskusi, dsb. Pada bagian atas candi ini terdapat 9 buah stupa seperti yang nampak pada stupa di Candi Borobudur dan tersusun dalam 3 deretan sejajar, dinding candi berhias Dhyani-Bodhisattwa. Bangunan Candi Sari bertingkat, masing-masing memilliki tiga ruang yang saling berhubungan, terdapat bekas tangga untuk naik. Pada bagian tubuh candi bagian luar terpahat arca-arca yang diletakkan menjadi dua baris di antara jendela. Arca ini merupakan Dewa Bodisatwa dan Tara berjumlah 36 buah, yakni 8 di sisi timur, 8 di sisi utara, 8 di sisi selatan dan 12 di sisi barat. Pada umumnya arca ini memegang teratai merah atau biru, serta semua arca ini digambarkan dalam sikap lemah gemulai, yaitu dengan sikap Tribangga, begitu pula dengan roman mukanya digambarkan jauh lebih tenang dan halus serta tidak terlalu mewah hiasannya seakan akan disesuaikan dengan tempat suci agama Budha. Selain itu di sebelah kiri kanan jendela ada pahatan Kinara Kinari atau mahluk kayangan yang berwujud setengah manusia setengah burung. Candi Sari ini di bagian luar dilapisi dengan Vajralepa dimaksudkan untuk memperhalus dinding dan pengawet batu supaya tidak lekas aus.
Di dalam ruangan candi terdapat tiga ruangan berjajar masing-masing berukuran 3,48 m x 5,80 m. Kamar tengah dan kedua kamar lainnya dihubungkan oleh pintu dan jendela. Bilik-bilik ini aslinya dibangun sebagai bilik bertingkat. Tinggi dindingnya dibagi dua dengan lantai kayu yang disangga oleh empat belas balok kayu yang melintang, sehingga dalam candi ini seluruhnya terdapat enam ruangan. Dinding bagian dalam kamar polos tanpa hiasan. Pada dinding belakang masing-masing kamar terdapat semacam rak yang letaknya agak tinggi yang dahulu dipergunakan sebagai tempat upacara agama dan menempatkan arca. Di lantai bawah terdapat beberapa tatakan arca dan relung bekas tempat meletakkan arca. Pada dinding kamar utara dan kamar selatan terdapat relung untuk menempatkan penerangan.
Bedasar data-data tersebut, tak diragukan lagi bahwa candi ini adalah Vihara, yaitu tempat meditasi bagi para pendeta Buddha (bhiksu), asrama bagi pendeta menganjar para siswanya, dimana didalamnya terdapat sebuah kuil dan juga untuk menyimpan kitab-kitab agama.
Di Candi Sari yang indah ini, Anda bisa sedikit berimaginasi tentang keseharian kehidupan para biksu yang belajar ilmu-ilmu agama. Sangat sayang jika Anda lewatkan!!
CANDI KALASAN ( peninggalan agama Budha tertua dan pemujaan terhadap figur ibu)
Candi Kalasan atau terkenal juga dengan Candi Kalibening merupakan peninggalan agama Budha tertua di wilayah Jogja dan Jawa Tengah, terletak di desa Kalasan di tepi jalan Raya Yogya-Solo di km 13 sedikit masuk ke dalam sekitar 50 meter. Pembangunan candi ini disebutkan dalam Prasasti Kalasan (700 Saka / 778 M), diterangkan bahwa para penasehat keagamaan Wangsa Syailendra telah menyarankan agar Maharaja Tejapurnama Panangkarana (Rakai Panangkaran, raja kedua dari Kerajaan Matarm Klasik ), mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta Buddha. Untuk pemujaan Dewi Tara dibangunlah Candi Kalasan ini sebagai persembahan terhadap Dewi Tara yang juga bermakna representasi figur suci seorang Ibunda dari Maharaja Jawa, mertua Raja Tejahpurnapana Panangkaran.
Dewi Tara sendiri merupakan figur suci wanita Buddha (Boddhisattva) yang masih diamalkan dan dilestarikan sampai sekarang sebagai tantra Buddha dalam agama Buddha Tibet. Tara atau dewi Tara merupakan lambang dari kebebasan atau kemerdekaan jiwa. Selain itu juga menyatakan keberhasilan, dan prestasi hidup yang sejati dan bersifat suci. Dewi Tara juga merupakan lambang dari belas kasih serta kehampaan (Śūnyatā, ketidak beradaan dan ketidak kekalan duniawi) yang diajarkan dalam agama Buddha.
Candi Kalasan dibangun untuk menghormati Ibu mertua Rakai Panangkaran, di Dinasti Syailendra. Karena itu bangunannya sangat megah serta dan memiliki ornamen indah unik. Di sekeliling candi terdapat Balekambang. Tubuh candi berhias 52 stupa, memiliki empat buah ruang. Ruang di tengah yang terbesar berisi arca Dewi Tara setinggi 3-6 meter. Bagian atas badan candi terdapat arca Dhyani-Budha di empat penjuru mata angin yaitu Aksobhya, Amogasidhi, Amitabha dan Ratnasambhawa. Lengkung Kala Makara dengan hiasan kahyangan di atasnya terpahat di atas pintu masuk dengan begitu indahnya.
Pada awalnya hanya candi Kalasan ini yang ditemukan pada kawasan situs ini, namun setelah digali lebih dalam maka ditemukan lebih banyak lagi bangunan bangunan pendukung di sekitar candi ini. Selain candi Kalasan dan bangunan - bangunan pendukung lainnya ada juga tiga buah candi kecil di luar bangunan candi utama, berbentuk stupa. Pada bagian selatan candi terdapat dua relief Bodhisattva, sementara pada atapnya terdiri dari 3 tingkat. Atap paling atas terdapat 8 ruang, atap tingkat dua berbentuk segi 8, sedangkan atap paling bawah sebangun dengan candi berbentuk persegi 20 yang dilengkapi kamar-kamar setiap sisinya. Ornamen-ornamen candi dipahat dengan halus dan dilapisi dengan "vajralepa", bahan kekuning-kuningan terbuat dari getah pohon tertentu. Vajralepa berfungsi sebagai pelindung lumut dan jamur, memperhalus ukiran menjadi bagus.
Candi Kalasan sebagai bangunan yang dipersembahkan Raja untuk menghormati meninggalnya Sang Ibunda mertua menggambarkan bagaimana ketinggian moral Raja-raja di Jawa kala itu. Anda harus menyaksikan sendiri kemegahan Candi Kalasan yang dibangun seorang Raja dengan kekuasaan besar yang dipersembahkan untuk sosok seorang Ibu!
CANDI IJO (candi paling tinggi letaknya di Jogjakarta)
Candi Ijo merupakan candi Hindu. Terletak di atas bukit bernama Gumuk Ijo (Gumuk=Bukit, Ijo= hijau) di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Candi Ijo merupakan Komplek di bangun sekitar abad ke - 9 sampai ke- 10 M, ditemukan oleh H.E Doorpaal, administrator pabrik gula Sorogedug pada tahun 1886. Pada tahun yang sama C.A Rosemeier menemukan 3 area batu. Pada tahun 1887 penelitian dan penggalian arkeologis candi induk yang dilakukan oleh DR. J. GRoneman menemukan lembaran – lembaran emas bertulisan, cincin emas, dan beberapa jenis biji – bijian.
Candi Ijo merupakan candi yang paling tinggi letaknya di banding candi-candi lain yang ada di daerah Jogjakarta, Candi ini berada diketinggian sekitar 395 di atas permukaan laut . Sehingga candi ini di kenal juga dengan sebutan "Candi Tertinggi di Jogjakarta". Candi Tertinggi bukan karena tingginya bangunan candi melainkan karena letaknya yang tinggi. Candi ini terdiri dari 11 teras yang semakin meninggi kebelakang. Bagian paling belakang berfungsi sebagai pusat candi. Pola seperti ini sangat berbeda dengan pola percandian dikawasan Prambanan, yang kebanyakan candi pola memusat ke tengah. Pada teras ke 11 yang merupakan pusat candi dijumpai 1 candi utama dan 3 buah candi perwara/candi pendamping yang berada di depan candi Utama (sebelah barat). Di dalam candi utama terdapat patung lingga-yoni dengan ukuran cukup besar. Lingga-Yoni di candi Ijo merupakan salah satu Lingga-Yoni yang terbesar di Indonesia. Di Candi Perwara bagian tengah ada arca lembu yang bernama Nandini dan arca Padmasana. Dalam mitologi hindu Nandini dianggap sebagai kendaraan dewa Siwa. Pada candi Perwara di sisi selatan ada sebuah Yoni bentuknya hampir sama dengan Yoni pada candi Induk yang berukuran lebih kecil. Bangunan candi pada teras yang lebih rendah,(teras 1 sampai teras 10) bangunannya sudah rubuh, yang tinggal hanya bebatuan candi, mungkin sudah banyak yang hilang sehingga tidak dapat di satukan lagi.
Meskipun sampai kini belum diketahui fungsi utama dari Candi Ijo ini namun candi ini sangat menarik untuk dikunjungi karena di sana Anda akan melihat bangunan candi yang dibangun di atas bukit berpadu dengan pemandangan alam yang sangat indah di sekitarnya. Coba Anda bayangkan bagaimana pengerjaan candi di atas bukit dan belum ada peralatan seperti sekarang!
CANDI BARONG (candi pemujaan terhadap dewa-dewi kesuburan)
Candi Barong adalah salah satu candi unik yang terdapat di wilayah selatan Candi Prambanan, tepatnya di perbukitan Batur Agung Dusun Candi Sari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Dinamakan Candi Barong oleh penduduk setempat karena adanya hiasan kala pada setiap sisi tubuh candi. Hiasan tersebut menyerupai singa/ barong.
Candi Barong diperkirakan dibangun sekitar abad ke-9 sampai ke-10 Masehi. Ditemukan kembali pada awal abad ke-20 dalam kondisi runtuh oleh seorang Belanda sekitar tahun 1913 pada saat perluasan perkebunan tebu untuk mendukung produksi pabrik gula. Ketika itu kondisi candi masih berupa reruntuhan dan sulit dikenali bentuk aslinya. Pemugaran Candi Barong dimulai pada tahun 1987 hingga tahun 1992.
Candi Barong merupakan kompleks peribadatan untuk memuja Dewa Wisnu dan istrinya, Dewi Laksmi atau yang terkenal dengan nama Dewi Sri (dewi kesuburan bagi pertanian). Terdapat hiasan kerang bersayap (sankha) yang merupakan salah satu simbol (laksana) dewa Wisnu, dan bagian puncak bangunan (kemuncak) yang berbentuk permata (ratna). Pemujaan terhadap Dewa Wisnu dan Dewi Sri ini, kemungkinan disebabkan oleh kondisi tanah di sekitar candi yang tandus dan tidak subur. Sehingga, dengan memuja Dewa Wisnu dan Dewi Sri diharapkan kondisi tanah tersebut menjadi subur.
Halaman komplek candi ini berupa tiga buah teras yang semakin tinggi ke arah timur, yang merupakan bagian belakang. Pada teras tertinggi terdapat sebuah selasar dan dua buah candi yang tidak memiliki jendela dan pintu. Teras tertinggi ini merupakan halaman yang paling suci. Perbedaan antara keduanya terletak pada ragam hias dan arcanya. Berdasarkan kedua hal tersebut, candi pertama diduga dibangun untuk pemujaan dewa Wisnu, sedangkan candi kedua untuk Dewi Sri. Di halaman teras kedua terdapat struktur bangunan berukuran 12,30 m x 7,80 m dan beberapa umpak batu berbentuk segi delapan. Diduga struktur tersebut merupakan pondasi bangunan pendapa dengan atap dari kayu . Sedangkan pada halaman teras pertama tidak ditemukan struktur bangunan.
Di Pulau Jawa Dewi Sri sangat populer dan dianggap sebagai Dewi Padi. Tak ada ruginya Anda meluangkan waktu untuk mengunjungi Candi yang dikhususkan untuk memuja dewi para petani di Jawa ini
CANDI BANYUNIBO (candi dengan relief dewi kesuburan dan dewa kekayaan)
Candi Banyunibo (yang dalam bahasa Jawa berarti air jatuh-menetes) adalah candi Budha yang terletak di sebelah selatan Desa Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, sekitar 14 km timur Kota Jogja. Lokasinya terlihat menyendiri di antara kawasan pertanian dengan latar belakang bukit Gunung Kidul di arah selatan. Candi ini dinamakan banyunibo karena menurut penduduk setempat bila dilihat dari jauh bentuknya menyerupai embun (air ) yang menetes atau tibo (bahasa Jawa) yang artinya jatuh. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 pada masa pemerintahan Raja Balitung jaman Kerajaan Mataram Klasik. Candi ini dibangun pada area yang cukup luas dan dikelilingi oleh bukit-bukit pada sisi utara, timur, dan selatan. Di atas perbukitan tersebut juga terletak beberapa candi lain seperti Candi Boko, Candi Dawangsari atau Candi Saragedug, Situs Gupala, dan Candi Ijo. Pada bagian atas candi ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha. Keadaan dari candi ini terlihat masih cukup kokoh dan utuh dengan ukiran relief kala-makara dan bentuk relief lainnya yang masih nampak sangat jelas.
Candi yang pertama kali ditemukan dan diperbaiki kembali pada tahun 1940-an hingga 1962 ini terdiri atas satu candi induk, menghadap ke Barat, dikelilingi oleh 6 (enam) Candi Perwara dalam bentuk stupa-stupa yang disusun berderet di selatan dan timur Candi Induk. Kaki candi yang mempunyai ketinggian 2,5 m itu dibangun di atas lantai batu. Pada sisi Barat kaki candi terdapat tangga masuk. Pada masing-masing sudut kaki candi dan dibagian tengah masing-masing sisi kaki candinya (kecuali sisi sebelah barat), terdapat hiasan berupa "Jaladwara" yang dipasang dilantai atas kaki candi dan berfungsi sebagai saluran air hujan. Pada sisi depan tubuh candi terdapat pintu bilik candi. Oleh karena ukuran luas tubuh candi lebih kecil dibanding dengan luas kaki candi maka tidak seluruh bagian lantai atas kaki candi tertutup oleh tubuh candi. Bagian yang tidak tertutup tubuh candi ini disebut selasar dan berfungsi sebagai lorong untuk mengelilingi candi.
Candi Banyunibo termasuk bangunan suci Budha yang cukup kaya akan ornamen. Hampir pada setiap bagian candi diisi oleh bermacam-macam hiasan dan relief, meskipun bagian yang satu dengan yang lain sering ditemukan motif hiasan yang sama. Pada dinding bilik pintu masuk sebelah selatan candi, terdapat relief yang menggambarkan seorang tokoh laki-laki. Relief tokohnya sendiri sudah rusak tinggal bagian tangan kirinya. Disebelah kirinya ada seorang pengiring (pariwara) dalam sikap duduk "ardha paryangka". Tangan kanan di atas paha kanan, tangan kiri bersikap seolah-olah melindungi sebuah kantong besar. Relief tersebut menggambarkan Dewa Kurawa, yang dianggap sebagai dewa kekayaan, tetapi di Indonesia dewa ini lebih dikenal oleh penganut Budha. Di atas bidang relief ini terdapat ornament dalam bentuk "rekalsitran" atau " selur gelung". Pada dinding sebelah utara terdapat relief tokoh wanita dalam sikap duduk. Kaki kiri ditekuk ke atas, kaki kanan dalam posisi bersila. Tangan kanan menumpang di pupu, sedang tangan kiri membopong (menimang) anak kecil. Disekelilingnya terdapat anak-anak kecil yang banyak jumlahnya, mengerumuni wanita tersebut. Kedua relief tersebut menggambarkan Hariti, dewi kesuburan dalam agama Buddha dan suaminya, Vaisaravana (dewa kekayaan).
Di Candi Banyunibo ini Anda bisa menikmati relief dewa-dewi kekayaan dan kesuburan berpadu dengan keindahan alam sekitar yang berupa hamparan sawah yang menyejukkan jiwa. Bukti- bukti harmoni kerukunan beragama juga bisa Anda temukan di sini dengan melihat posisi Candi Banyunibo yang tidak jauh bahkan berbaur dengan candi-candi yang bersifat Hindu.
CANDI KEDULAN (prasasti pembebasan pajak desa demi pembuatan bendungan dan irigasi)
Candi Kedulan adalah candi Hindu yang berada tidak jauh dari Candi Sambisari, yaitu di Dusun Kedulan, Kelurahan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Yogyakarta. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Klasik. Candi Kedulan ditemukan pada 24 November 1993 dalam kondisi runtuh dan tertimbun pasir. Penemuannya pun terjadi secara tidak sengaja, yaitu saat sekelompok mayarakat sedang menambang pasir. Jika ditinjau dari material pasir yang menimbun Candi Kedulan, diperkirakan material tersebut berasal dari letusan Gunung Merapi yang terjadi dalam beberapa periode. Dilihat dari jenis tanah yang menutup candi terlihat ada 13 lapis jenis lahar, sehingga diperkirakan lahar yang mengubur candi tersebut berasal dari 13 kali letusan Gunung Merapi. Bagian dasar candi berada pada kedalaman sekitar tujuh meter.
Semenjak ditemukan pada tahun 1993 hingga tahun 2010 pemugaran Candi Kedulan masih belum usai. Pada 12 Juni 2003, ditemukan 2 buah prasasti yakni Pananggaran dan Sumudul di area Candi Kedulan di lokasi penggalian. Prasasti yang ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta tersebut berhasil dibaca oleh dua epigraf dari Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yaitu Dr Riboet Darmoseotopo dan Tjahjono Prasodjo MA. Prasasti berangka tahun 791 Saka (869 Masehi, atau sekitar 10 tahun setelah candi Prambanan berdiri), isinya tentang pembebasan pajak tanah di Desa Pananggaran dan Parhyangan, pembuatan bendungan untuk irigasi, pendirian bangunan suci bernama Tiwaharyyan serta ancaman kutukan bagi siapapun yang tidak mematuhi aturan. Beberapa arkeolog menduga bahwa prasasti tersebut berkaitan dengan pendirian Candi Kedulan. Bangunan suci Tiwaharyyan diduga merupakan Candi Kedulan itu sendiri. Desa Pananggaran yang diceritakan pada prasasti diduga berada di wilayah sekitar candi, begitu pula bendungan yang dimaksud. Namun sampai kini belum ditemukan jejak bendungan kuno yang dimaksud. Mungkin bendungan itu dibangun di Sungai Opak yang berjarak ±4 km dari lokasi candi, atau mungkin juga di sungai yang kini sudah tidak ada lagi karena tertutup lahar letusan Gunung Merapi seribu tahun silam.
Candi Kedulan menghadap ke arah timur dan seni hiasannya mendekati hiasan Candi Ijo dan Candi Barong. Pada Candi Kedulan juga terdapat pipi tangga pada candi perwara (pendampingnya). Hiasan pipi tangga berbentuk ular, di dalam mulut ular terukir sesosok burung. Ada keistimewaan pada Candi Kedulan, yang terletak pada relief Kala. Di Jawa Tengah, relief Kala tidak punya rahang bawah seperti di Jawa Timur. Namun Candi Kedulan yang terletak di Jawa Tengah, ternyata relief Kala-nya mempunyai rahang bawah. Karena itu diperkirakan Candi Kedulan dibangun pada akhir periode kerajaan Hindu Jawa Tengah yang bergeser ke Jawa Timur sekitar abad ke-8 dan ke-10.
Candi Kedulan ini merupakan satu bukti lagi bahwa Raja-Raja Jawa jaman klasik tidak hanya religius tetapi juga memperhatikan kemakmuran rakyatnya dengan membuat bendungan dan irigasi yang tentunya sangat berarti untuk pengairan sawah-sawah jaman itu. Jadi selayaknya Anda sempatkan untuk melihat bukti nyata dari religious dan bijaksananya Raja Jawa kala itu!
CANDI GAMPINGAN (tempat pemujaan terhadap dewa rejeki)
Candi Gampingan adalah candi Budha, terletak di dusun Gampingan, kelurahan Sitimulyo, kecamatan Piyungan, kabupaten Bantul, yaitu di sebelah selatan kota Yogyakarta. Berdasarkan pada gaya seni bangun dan seni arcanya, candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke- 9 Masehi. Pada saat ditemukan pada tahun 1995 oleh pembuat batu bata, Sarjono yang kemudian dilaporkan ke pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala DIY. Ekskavasi penyelamatan dilakukan oleh SPSP DIY pada tanggal 3-10 Agustus 1995. Ekskavasi ini berhasil menemukan 4 buah struktur bangunan dari batu putih. Keempat bangunan tersebut terdiri atas sebuah bangunan induk, 2 buah bangunan stupa dan bangunan yang terletak di sebelah barat daya dari stupa selatan. Artefak berupa sebuah arca Bodhisattwa, tiga buah arca Budha, sembilan lempengan emas, fragmen gerabah, dan fragmen keramik.
Walaupun sampai sekarang belum sepenuhnya selesai dipugar, kompleks reruntuhan candi ini mempunyai tujuh buah bangunan candi yang tidak utuh, dengan bangunan utama berukuran kira-kira 5 m x 5 m dan tinggi 1,2 meter. Arah hadap bangunan candi induk adalah ke barat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya sisa tangga sebanyak 7 trap pada sisi barat bangunan induk. Tangga ini memiliki hiasan berupa makara pada ujungnya. Di dalam bangunan induk terdapat tiga buah arca Dhyani Buddha Wairocana yang terbuat dari perunggu, dua buah arca Jambhala dan Candralokesvara dari batu andesit, benda-benda dari emas, dan beberapa benda-benda keramik. Candi Gampingan yang diperkirakan dibangun antara tahun 730 - 850 M diyakini merupakan tempat pemujaan Dewa Jambhala (Dewa Rejeki, anak Dewa Siwa). Jambhala digambarkan sedang dalam keadaan semedi, tubuhnya duduk bersila sementara matanya terpejam. Bagian tubuhnya dihiasi oleh unsur ikonografis (asana) berupa bunga teratai yang memiliki daun berjumlah 8 helai sebagai lambang cakra dalam tubuh manusia.
Meski ukurannya kecil dan sudah tak utuh lagi, Candi Gampingan masih kaya akan relief yang mempesona. Pada bagian kaki dari candi Gampingan ini terdapat relief berbagai jenis hewan seperti katak, ayam jantan, dan berbagai jenis burung. Terdapat relief burung gagak yang tampak memiliki paruh besar, tubuh kokoh, sayap mengembang ke atas dan ekor berbentuk kipas. Ada pula relief burung pelatuk yang digambarkan memiliki jambul di atas kepala, paruh yang agak panjang dan runcing serta sayap yang tidak mengembang. Selain itu, ada juga ayam jantan yang memiliki dada membusung dan sayap mengembang ke bawah. Pembuatan relief burung dalam jumlah banyak di candi ini berkaitan keyakinan masyarakat saat itu bahwa burung merupakan perwujudan para dewa sekaligus pembawa pesan dari alam para dewa atau nirwana. Burung juga berkaitan dengan kebebasan absolut manusia yang dicapai setelah berhasil meninggalkan kehidupan duniawi, lambang jiwa manusia yang lepas dari raganya.
Relief hewan lain yang juga banyak digambarkan adalah katak. Masyarakat saat itu percaya bahwa katak memiliki kekuatan gaib yang mampu mendatangkan hujan, sehingga katak juga dipercayai mampu meningkatkan produktivitas, karena air hujan yang didatangkan katak bisa meningkatkan hasil panen. Katak yang sering muncul dari air juga melambangkan pembaharuan kehidupan dan kebangkitan menuju arah yang lebih baik.. Sedangkan figur Jambhala di candi ini berbeda dengan yang ada di candi lainnya. Umumnya, Jambhala di candi lain digambarkan dengan mata lebar yang menatap ke arah pemujanya disertai dengan beragam hiasan yang melambangkan kemakmuran dan kemewahan. Diyakini, penggambaran berbeda ini didasari oleh motivasi pemujaan, bukan untuk memohon kemakmuran tetapi bimbingan agar dapat mencapai kebahagiaan sejati.
Candi Gampingan ini jangan Anda lewatkan. Lihatlah berbagai macam hewan yang dianggap berkekuatan gaib kala itu di setiap relief nya terutama burung pembawa pesan dari surga!!
CANDI MORANGAN (candi yang memiliki relief berbagai macam binatang)
Candi Morangan adalah candi Hindu yang berada di dusun Morangan, kelurahan Sindumartani, kecamatan Ngemplak, Sleman, Yogyakarta dan menempati posisi paling utara dari keseluruhan kompleks candi yang ada di wilayah Jogjakarta. Berada sangat dekat dengan sungai Gendol (100 meter sebelah barat) dan paling utara mendekati gunung Merapi. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 dan ke-10 di jaman Kerajaan Mataram Klasik sejaman dengan pembuatan candi-candi Hindu, seperti Candi Prambanan dan lain-lain. Diperkirakan Candi ini runtuh salah satunya akibat terjangan banjir dari Sungai Gendol yang letaknya tidak lebih dari 200 meter di sisi timur kompleks candi.
Candi ini ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia candi ini kembali tertutup tanah. Eksvakasi tahun 1982, berhasil menampakkan 2 buah bangunan candi yakni candi induk dan candi perwara, yang sebelumnya terpendam 6,5 meter di bawah tanah. Secara lengkap candi induk terdiri atas kaki, tubuh serta atap candi. Candi ini mempunyai banyak relief yang dipahatkan pada batang kaki maupun batang tubuh candi. Candi perwara menghadap ke timur, saat ini bangunan yang dapat dijumpai adalah bagian tubuh dan kaki candi candi. Sisi utara, barat, dan selatan tubuh candi memiliki memiliki relung yang berisi arca, tetapi arca tersebut telah di amankan oleh dinas purbakala setempat. Satu hal yang membedakan candi morangan dengan candi candi lain adalah terdapatnya satu panel relief yang diperkirakan merupakan bagian dari cerita tantri kamandaka tentang seekor harimau yang tertipu oleh seekor kambing, karena selama ini relief tersebut hanya ditemukan pada candi berlatar belakang agama Budha.
Pada kompleks candi Morangan ini juga ditemukan arca yoni dan patung resi serta sejumlah arca lain di dalam relung-relung candi. Relief-relief menggambarkan dua laki-laki mengapit tumpukan bunga-bungaan, dua wanita mengapit kendi besar dengan membawa kendi-kendi kecil, dua wanita menunggang gajah, tiga orang resi, kepala dalam relung, dan ayam jantan disangga gana. Selain itu ada beragam burung mulai burung gereja, kakatua dan burung merak. Relief binatang lainnya adalah sapi, kijang, dan kancil. Ukiran binatang dan bunga teratai mendominasi relief dinding candi ini. Banyaknya relief binatang ini menunjukkan kedekatan hubungan manusia dengan lingkungannya. Mayoritas candi Hindu lebih kaya dengan cerita Ramayana atau Kresnayana. Namun Candi Morangan terlihat lebih unik karena banyak mengusung kehidupan binatang. Relief binatang ini tersebar di dua bangunan yang berhasil dirangkai, baik berupa candi induk maupun candi perwara. Sehingga candi ini selain sebagai media meditasi atau berdoa, juga berfungsi sebagai media pembelajaran bersahabat dengan alam untuk menjaga lingkungan dengan tidak menebang pohon. Candi bagi umat Hindu ibarat tempat bersemayam para dewa yang indah dan nyaman karena dihuni oleh aneka binatang dengan hutan dan tanaman yang masih terpelihara.
Candi ini sangat sayang jika Anda lewatkan karena di sini Anda biisa melihat harmoni kehidupan yang erat antara manusia dan alam!
CANDI GEBANG (candi mungil di tengah perkampungan penduduk)
Candi Gebang terletak dusun Gebang, kelurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Nama candi ini diambil dari nama dusun tempat penduduk menemukan Arca Ganesha pada bulan November 1936. Candi ini tanpa relief atau polos yang menunjukkan bahwa candi ini berasal dari periode yang tua antara tahun 730-800 M atau sekitar abad ke-8 M pada saat wangsa Sanjaya yang berkuasa di jaman Kerajaan Mataram Klasik (Hindu). Candi yang dipugar oleh Prof Dr. Ir. Van Romondt tahun 1937-1939, ini berbentuk bujur sangkar dengan satu bilik, berukuran sekitar 5 x 5 meter dengan tinggi sekitar 8 meter.
Lokasi Candi Gebang ini sekarang berada di tengah perumahan, barat Stadion Maguwoharjo. Untuk menuju ke Candi Gebang harus memasuki kawasan rumah penduduk dan jalan setapak yang cukup sunyi dari keramaian. Candi Gebang merupakan Candi Hindu. Hal ini terbukti dengan adanya puncak atap berbentuk Lingga Silinder yang ditempatkan diatas bantalan Seroja, disamping itu juga adanya arca ganesha, nandhiswara dan yoni yang masing-masing terletak di relung sebelah barat, relung sebelah timur dan di sebelah kiri pintu masuk dan bilik candi.
Anda harus mengunjungi candi mungil yang cantik ini. Kecil namun menggambarkan kejayaan nenek moyang masa lalu!s
Uraian candi-candi di atas adalah candi-candi kecil di Jogja yang masih bisa teridentifikasi meskipun belum keseluruhan terungkap secara utuh. Masih banyak lagi candi dan situs di daerah Jogja yang belum teridentifikasi bahkan terbengkalai. Candi-candi tersebut merupakan kekayaan yang tak ternilai peninggalan nenek moyang kita dan sudah seharusnyalah kita merawat peninggalan tersebut yang menunjukkan betapa tinggi peradaban pada masa klasik di Pulau Jawa ini. Peninggalan tersebut juga menunjukkan identitas bangsa ini yang sangat religius serta harmonis dalam perbedaan.
(Diolah dari berbagai sumber/Agustus/Tour Department-wi2n)















